CARA AGAR PERMOHONAN KPR TIDAK DITOLAK

KPR ANDA DITOLAK !!!
MAU TAU SOLUSINYA ???
Sudah Asyik Berkhayal Punya Rumah, KPR malah ditolak. Mengapa???

SEGERA HIJRAH KE PROPERTI SYARIAH

solusi-kpr-ditolak

Rumah impian sudah di depan mata Anda, namun uang untuk membelinya secara tunai masih jauh dari mata. Pilihannya? Kredit pemilikan rumah (KPR).

Selesai? Tidak juga. Karena mendapatkan KPR juga butuh perjuangan. Hal itu karena tidak sedikit pemohon KPR yang ditolak.

KPR memang merupakan salah satu solusi paling populer untuk memperoleh rumah, di kala uang tunai yang Anda miliki tidak mencukupi untuk melunasi seluruh harga dari rumah tersebut.

Nyatanya, tak hanya masyarakat berpenghasilan rendah yang memanfaatkan KPR untuk memiliki rumah. Masyarakat berpengghasilan menengah bahkan tinggi, pun, juga memanfaatkan KPR. Hanya saja harga rumah dan plafon yang diajukan tentu lebih tinggi, mencapai angka miliar rupiah.

Namun, entah Anda masyarakat berpengghasilan rendah, menengah, atau tinggi, tiga alasan ini bisa membuat permohonan KPR Anda ditolak mentah-mentah oleh pihak perbankan. Ini dia:

1. SEJARAH KEUANGAN JELEK
Dalam dunia keuangan, ungkapan “masa lalu biarlah menjadi masa lalu”, tidak berlaku. Masa lalu Anda adalah masa depan Anda. Artinya, sejarah keuangan yang buruk di masa lalu sangat memengaruhi reputasi Anda di masa kini dan mendatang. Reputasi buruk itu terkait, misalnya, soal tunggakan kartu kredit atau kredit lainnya, baik di lembaga keuangan bank (LKB) dan lembaga keuangan non-bank (LKNB), yang pernah atau malah masih Anda miliki. Akibatnya nama Anda dimasukkan ke dalam Daftar Hitam Bank Indonesia, yang berisi nama-nama penunggak – dan pengemplang – utang di LKB dan LKNB. Bank pemberi KPR tentu ogah memberikan fasilitas kredit pada mereka yang memiliki sejarah keuangan buruk. Hal itu dianggap sebagai berisiko tinggi.

2. TIDAK MEMENUHI PERSYARATAN
Ketika mendatangi sebuah bank untuk mengajukan permohonan KPR, perhatikan dengan saksama persyaratan yang diperlukan dalam pengajuan KPR. Misalnya saja soal penghasilan Anda. Disyaratkan bahwa cicilan KPR maksimal 30% dari penghasilan. Jadi, kalau Anda ingin mencicil sebuah rumah dengan cicilan tiap bulan Rp2 juta, sedangkan penghasilan Anda Rp5 juta perbulan, maka sudah pasti permohonan KPR Anda ditolak. Perhatikan pula persyaratan mengenai masa kerja Anda sebagai karyawan tetap di perusahaan. Bila kurang dari dua tahun, lupakan bisa mendapat KPR. Selain itu perhatikan juga persyaratan tentang usia, di mana usia Anda di rentang 55-65 – tergantung ketentuan masing-masing bank – ketika cicilan berakhir.

3. DOKUMEN TIDAK LENGKAP
Sebelum Anda mengembalikan dokumen permohonan KPR, periksa ulang. Kalau ada hal yang tidak Anda pahami, tanyakan sampai jelas kepada petugas bank yang membantu Anda. Jelaskan pula kepada pihak HRD kantor tempat Anda bekerja mengenai kepentingan pembuatan dokumen pendukung, sehingga mereka dapat bertindak kooperatif. Walau demikian, sebaiknya jangan memanipulasi data – seperti melakukan mark-up jumlah gaji – karena bakal menjadi bumerang. Baik ketika KPR tersebut disetujui – karena ada kemungkinan besar Anda gagal bayar – apalagi ketika tidak disetujui karena Anda ketahuan berbohong.

TIPS BELI RUMAH PERTAMA KALI AGAR UNTUNG

APAKAH ANDA PERNAH MENGALAMI KEJADIAN INI ..!!!
BAGAIMANA SOLUSINYA?

KLIK DISINI UNTUK MENDAPATKAN SOLUSINYA

PILIHLAH KPR SYARIAH ATAU PERUMAHAN SYARIAH
TANPA RIBA, TANPA BANK, TANPA BUNGA, TANPA AKAD BERMASALAH

CARI DI HALAMAN RUMAH SYARIAH INI:
rumah nabawi, Perumahan, Perumahan Murah, Perumahan Syariah, Perumahan Syariah Bogor, Perumahan Syariah Bandung, Perumahan Syariah Depok, Perumahan Syariah Bekasi, Perumahan Syariah Tangerang, Perumahan Syariah Tangerang Selatan, Perumahan Syariah Tanpa Riba, Perumahan Syariah Jakarta, Perumahan Syariah Tanpa Bank, Kpr Syariah, Kpr Syariah Paling Murah, Kpr Syariah Tanpa Riba, Kpr Syariah Bandung, Kpr Syariah Terbaik, Kpr Syariah Depok, Kpr Syariah Bogor, Kpr Syariah Bekasi, Properti Syariah, Properti Syariah Bekasi, Properti Syariah Murah, Perumahan Islami, Tanpa Riba, Rumah Tanpa Riba, Kredit Rumah Murah, Kredit Rumah, Kredit Rumah Tanpa Dp, Kredit Rumah Syariah, Kredit Rumah Tanpa Riba, Kredit Rumah Murah Tanpa Dp, Rumah Syariah, indopro syariah, indo properti syariah

Konsep KPR Tanpa Riba tidak dipahami dengan cara yang sama oleh setiap orang. Tidak sedikit orang yang menganggap bahwa ketiadaan bunga (interest) sudah merupakan pemahaman yang tuntas tentang konsep Tanpa Riba.

Padahal Riba bisa muncul dari aktivitas lain yang sayangnya tidak banyak disadari oleh masyarakat. Sebenarnya bukan hanya konsep Tanpa Riba saja yang perlu dipahami, disadari, dan diwaspadai oleh masyarakat. Ada beberapa pemahaman lain yang harus benar-benar jelas dipahami agar masyarakat tidak terjerumus pada aktivitas maksiat secara tidak sadar karena ketiadaan ilmu.

KONSEP KPR TANPA RIBA
Riba yang merupakan salah satu ciri utama yang khas dari sistem ekonomi sekuler-kapitalistik terbukti hanya membawa kesengsaraan untuk mayoritas dan semakin memisahkan jurang pembeda antara si kaya dan si miskin. Konsep Tanpa Riba adalah gagasan utama yang diemban oleh Developer Properti Syariah sebagai bagian dari solusi kepemilikan properti untuk masyarakat. Kesadaran masyakat Indonesia yang mayoritas muslim akan pentingnya memastikan setiap transaksi yang dilakukan bebas dari riba/tanpa riba semakin meningkat dari waktu ke waktu.

Akan tetapi menghadirkan pemahaman bertransaksi bebas unsur riba pada pemilikan properti adalah sesuatu hal yang baru bahkan di awal mula kehadirannya dianggap sebagai kemustahilan. Akan tetapi seiring dengan berjalannya waktu semakin terlihat bahwa selalu ada solusi bagi mereka sungguh-sungguh dan totalitas dalam berikhtiar. Termasuk untuk urusan kepemilikan properti secara syar’i bebas riba.

KONSEP KPR TANPA BANK
Tidak banyak masyarakat yang menyadari bahwa salah satu pintu utama kokohnya riba di tengah-tengah masyarakat adalah keberadaan bank dan keterlibatannya dalam transaksi-transaksi strategis yang dilakukan masyakat. Bank menjadi alat yang efektif bagi sistem ekonomi sekuler-kapitalistik untuk mengeruk dana masyarakat dan mengokohkan riba untuk selalu berada di tengah-tengah masyarakat.

Konsep Tanpa Bank yang dibawa oleh Developer Properti Syariah (DPS) adalah dengan meniadakan peranan perbankan dalam aktivitas pembiayaan dan transaksi lainnya yang bersinggungan dengan hal yang prinsip serta membahayakan aqidah masyarakat. Keberadaan Bank Syariah pun tidak menjadi solusi nyata untuk membebaskan masyarakat dari aktivitas-aktivitas ekonomi bertentangan dengan Syariat Islam. Adapun aktivitas teknis semisal menggunakan jasa transfer uang atau aktivitas lainnya yang tidak membahayakan aspek-aspek prinsip aqidah, masih dapat untuk dimanfaatkan.

KONSEP KPR TANPA DENDA
Konsep berikutnya yang menjadi pembeda mendasar kami sebagai Developer Properti Syariah dengan Developer Properti Konvensional adalah Konsep Tanpa Denda. Kebanyakan orang memiliki pandangan yang keliru tentang denda. Dalam konteks transaksi pemilikan properti konvensional, denda muncul sebagai konsekuensi yang harus ditanggung oleh konsumen yang diakibatkan karena adanya keterlambatan pembayaran cicilan dalam skema kredit. Banyak yang menganggap denda ini adalah suatu hal yang wajar. Padahal, dari sudut pandang Syariat Islam, denda semacam ini adalah terlarang dan merupakan bagian dari riba yang jelas-jelas maksiat dan dilarang dalam Islam.

KONSEP TANPA AKAD BERMASALAH
Konsep yang tidak kalah penting yang diemban oleh Developer Properti Syariah adalah konsep tanpa akad bermasalah. Seringkali masyarakat calon pembeli properti tidak mengerti kejelasan akad yang mereka lakukan ketika hendak membeli properti. Sebagai contoh adanya barang agunan dalam transaksi kredit. Umum ditemukan pada transaksi kredit pemilikan properti konvensional barang yang diagunkan adalah properti yang ditransaksikan, padahal dalam Islam hal seperti ini adalah dilarang dan menyebabkan akad menjadi bathil. Dalam transaksi kredit syariah, kejelasan akad seperti ini menjadi hal yang penting untuk diketahui agar akad transaksi bebas masalah.

KLIK DISINI PENJELASAN KONSEP KPR PROPERTI SYARIAH

DAFTAR PERUMAHAN SYARIAH
PERUMAHAN SYARIAH JAKARTA
PERUMAHAN SYARIAH BOGOR
PERUMAHAN SYARIAH TANGERANG
PERUMAHAN SYARIAH BEKASI
PERUMAHAN SYARIAH DEPOK
PERUMAHAN SYARIAH SERANG
PERUMAHAN SYARIAH BANJAR
PERUMAHAN SYARIAH BANDUNG
PERUMAHAN SYARIAH CIKARANG

PERBEDAAN KPR SYARIAH, BANK SYARIAH DAN BANK KONVENSIONAL

Perbedaan KPR Syariah Dengan KPR BANK Syariah ataupun dengan KPR BANK Konvensional. Buat anda yang ingin membeli rumah secara kredit Silahkan dibaca dan dipahami artikel dibawah ini agar bisa membedaan mana yang mudah dan lebih untung serta lebih nyaman

keuntungan-kpr-syariah-kredit-rumah

PIHAK JUAL BELI
KPR Syariah : Hanya ada 2 pihak (Penjual dan pembeli)
•Bank Syariah : Ada 3 pihak yaitu Developer, Pembeli dan Bank
•Bank Konvensional : Ada 3 pihak yaitu Developer, Pembeli dan Bank

SYSTEM CICILAN KREDIT RUMAH
SISTEM CICILAN BUKAN MARGIN, MELAINKAN SISTEM BUNGA

•KPR SYARIAH : CICILAN FLAT
(total harga atau bisa disebut hutang dibagi jumlah bulan dalam masa hutang atau tenor)

•BANK SYARIAH : CICILAN FLAT
(total harga atau bisa disebut hutang dibagi jumlah bulan dalam masa hutang atau tenor)

•BANK KONVENSIONAL : MENGIKUTI SUKU BUNGA
Mayoritas cicilan tidak flat atau mengikuti suku bunga. Ini adalah riba karena ada tambahan dari nilai hutang piutang (sistemnya menuliskan harga pokok lalu dikalikan bunga)

SEBAGAI BARANG JAMINAN
Dalam hukum syariah Barang atau Rumah yang diperjual belikan tidak boleh dijaminkan

•KPR SYARIAH: TIDAK MENJAMINKAN barang yang sedang di perjual belikan
•BANK SYARIAH: Menjaminkan barang yang sedang diperjual belikan
•BANK KONVENSIONAL: Menjaminkan barang yang sedang diperjual belikan

TERDAPAT SYSTEM DENDA
Dalam hukum syariah tidak boleh adanya denda jika terjadi keterlambatan dalam cicilan, Adanya denda artinya ada riba karena pertambahan dari harga yang telah ditetapkan

KPR SYARIAH: Tidak ada denda
BANK SYARIAH: Tidak ada denda
BANK KONVENSIONAL: Ada denda

TERDAPAT SYSTEM SITA
Dalam hukum syariah jika macet dan tidak bisa melanjutkan cicilan KPR maka harus dicarikan solusi yang terbaik bagi kedua pihak TANPA Melakukan SITA dan Penyitaan terhadap barang atau rumah yang sudah dibeli.

•KPR SYARIAH: Tidak ada sita
•BANK SYARIAH: Tidak ada sita
•BANK KONVENSIONAL: Ada sita

ADANYA PENALTY
Apabila poin poin perjanjian dilanggar maka akan kena denda atau penalty, termasuk jika pembeli ingin melunasinya lebih cepat

KPR SYARIAH: Tidak ada penalty
BANK SYARIAH: Tidak ada penalty
BANK KONVENSIONAL: Ada penalty.
Adanya PENALTY Ini artinya terdapat RIBA karena ada penambahan dari hutang piutang

TERDAPAT ASURANSI
Menggunakan asuransi, padahal asuransi belum ada yang sesuai syariah
KPR SYARIAH: Tidak memakai asuransi
BANK SYARIAH: Memakai asuransi
BANK KONVENSIONAL: Memakai asuransi

BI CHECKING
BI Checking disini seperti harus punya tabungan, dan minimal angka cicilan itu harus 30 persen dari gaji dan lain sebagainya sesuai standar BANK masing masing

KPR SYARIAH: Tidak ada BI Checking sehingga memberikan kemudahan bagi:
1. Karyawan kontrak
2. Pedagang kecil
3. Usia lanjut
4. Bidang usaha dan pekerjaan lainnya

BANK SYARIAH: Ada BI Checking
BANK KONVENSIONAL: Ada BI Checking

TENTUKAN PILIHAN ANDA

RUMAH NABAWI | AGEN PERUMAHAN SYARIAH
Tanpa Bank | Tanpa Riba | Tanpa Sita | Tanpa Denda
Tanpa Bi Checking | Proses Mudah dan Cepat
www.rumahnabawi.com

 

APA BENAR KPR SYARIAH Tidak Bermasalah ???

KPR syariah yang dipercaya sebagai solusi teraman mewujudkan rumah idaman ternyata juga menyimpan masalah besar. Label syariah pada hakekatnya tidak lebih pemaksaan istilah. Siapa pun yang bersedia memahami akan menyimpulkan: tak ada beda KPR bank syariah dengan KPR bank konvensional.

Memiliki rumah megah, atau mobil mewah, adalah impian setiap orang. Termasuk Anda. Bukankah demikian? Pertanyan besar yang mungkin selama ini menyelimuti benak Anda ialah dengan apa Anda bisa mewujudkan impian indah itu? Semakin Anda memikirkannya, impian itu semakin pudar. Tak ayal lagi, Anda jadi putus asa. Bagi banyak orang, untuk mewujudkan hunian keluarga ekstra instan, saat ini hanya tersisa satu pintu sempit. Yakni menggunakan fasilitas kredit yang ditawarkan oleh berbagai lembaga keuangan, termasuk perbankan. Hampir telah menjadi paten bagi banyak kalangan, bila ingin menikmati indahnya rumah idaman atau mobil mewah, harus rela menjadi nasabah bank. Benarkah membeli rumah atau mobil idaman hanya bisa dilakukan dengan utang jangka panjang dari bank?

APA BENAR KPR SYARIAH Tidak Bermasalah ???

BEDANYA JELAS, JELAS BERBEDA

Pembaca yang budiman, sebelum terlalu jauh berbicara hukum menggunakan fasilitas Kredit Pemilikan Rumah (KPR) dari perbankan atau lembaga keuangan lain, saya perkenankan Anda untuk ada baiknya merenungkan perbandingan yang disajikan dalam tabel berikut.

Bedanya jelas, dan jelas-jelas berbeda, kan? Kini tibalah Anda untuk memikirkannya dari sudut syariat.

KPR DITINJAU DARI SYARIAT

Penyaluran KPR biasanya melibatkan tiga pihak. Yakni Anda sebagai nasabah, pengembang perumahan (developer) dan bank atau lembaga keuangan/pembiayaan. Setelah melalui proses administrasi, biasanya Anda diwajibkan membayar uang muka (down payment / DP) sebesar 20 persen dari harga jual. Setelah mendapatkan bukti pembayaran DP, bank akan melunasi sisa pembayaran rumah sebesar 80 persen. Tahapan selanjutnya, sudah dapat ditebak: Anda menjadi nasabah (debitur) bank penyalur KPR.

Sekilas, pada akad kredit tersebut Anda tidak menemukan hal yang perlu dipersoalkan. Terlebih berbagai lembaga keuangan syariah mengklaim bahwa mereka berserikat dengan Anda dalam pembelian rumah. Anda membeli 20 persen dari rumah itu. Sedangkan lembaga keuangan syariah membeli sisanya, yaitu 80 persen. Dan pada saatnya nanti, lembaga keuangan menjual kembali bagiannya yang 80 persen itu kepada Anda. Namun bila Anda cermati lebih jauh, niscaya Anda akan menemukan berbagai kejanggalan secara hukum syariat. Tiga hal berikut layak dipersoalkan secara hukum syariat.

1. Adanya DP (Down Payment, Uang Muka)

Pembaca yang budiman, sejujurnya ketika Anda membayar DP—biasanya 20 persen dari harga jual rumah—kepada pengembang, apa niat Anda? Apakah uang sebesar itu merupakan uang muka ataukah penyertaan modal Anda untuk membeli rumah? Saya yakin, semua orang, termasuk lembaga keuangan terkait, menyadari bahwa uang Anda yang 20 persen itu adalah uang muka, dan bukan penyertaan modal. Jika realitanya demikian, sejatinya Anda selaku nasabah telah membeli rumah secara utuh. Artinya, secara syariat, dengan membayar DP, berarti pembeli (nasabah) telah dianggap memiliki rumah yang dia beli. Kesimpulan ini didasari pada ketentuan hukum jual-beli dalam syariat. Bahwa barang yang telah dijual secara sah menjadi milik pembeli, terlepas dari lunas atau tidaknya pembayaran. Karena dalam aturan jual-beli secara kredit, barang resmi menjadi milik pembeli, meskipun belum lunas. Dengan demikian, kehadiran dan keterlibatan lembaga pembiayaan Kendaraan bermotor maupun rumah layak dipersoalkan

Dari fenomena KPR, Anda dapat pastikan bahwa peran lembaga keuangan tersebut hanya sebatas membiayai alias mengutangi. Karena bank secara aturan perundangan tidak diperkenankan melakukan kegiatan bisnis riil, termasuk membeli rumah.

Di saat yang sama, Anda juga dapat menyoal keberadaan DP dari sisi lain. Mengapa lembaga keuangan senantiasa mempersyaratkan adanya DP? Bukankah akan lebih baik dan benar-benar membantu masyarakat bila lembaga keuangan menangung seluruh dana pembelian rumah, dan selanjutnya dikreditkan di masyarakat?

2. Nasabah Membayar Lebih

Selain peran lembaga keuangan yang hanya sebatas membiayai atau mengutangi, ternyata pada prakteknya, lembaga keuangan tersebut memungut keuntungan dari nasabah KPR. Tidak diragukan, keutungan ini haram karena riba. Haramnya keuntungan yang dipersyaratkan dalam akad utangpiutang adalah konsensus ulama, dan telah dituangkan dalam kaidah ilmu fiqih berikut:

“Setiap piutang yang mendatangkan keuntungan, maka itu adalah riba” (al-Qawaid an-Nuraniyah, hlm. 116)

3. Akad Penjualannya Hanya Sekali

Klaim bahwa lembaga keuangan dalam KPR melakukan penyertaan modal dalam pembelian rumah, nampaknya tidak sesuai fakta. Buktinya, Anda tidak pernah membeli bagian mereka yang 80 persen. Kalaupun lembaga keuangan bersikukuh telah melakukan penyertaan modal dan kemudian menjualnya kembali kepada Anda, itu pun tetap menyisakan masalah besar. Bila pun klaim lembaga keuangan benar, berarti mereka telah menjual barang sebelum sepenuhnya mereka terima, dan itu terlarang secara syariat.

Dari sahabat Ibnu Abbas Radliallahu ‘anhu, beliau menuturkan,

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Barang siapa yang membeli bahan makanan, maka janganlah ia menjualnya kembali hingga ia selesai melakukan serah terima barang tersebut.”Ibnu Abbas berkata: “Saya berpendapat bahwa segala sesuatu hukumnya seperti bahan makanan.” (Muttafaqun alaih)

Thawus mempertanyakan sebab larangan ini kepada sahabat Ibnu Abbas Radliallahu ‘anhu: “Saya bertanya kepada Ibnu Abbas: Bagaimana kok demikian? Ibnu Abbas menjawab: “Itu karena sebenarnya yang terjadi adalah menjual dirham dengan dirham, sedangkan bahan makanannya ditunda.” (Muttafaqun‘Alaih)

MENABUNGLAH DAN BERDOA AGAR ALLAH SWT BERIKAN KEMUDAHAN

KPR yang menurut banyak orang solusi untuk mewujudkan rumah impian, ternyata menyimpan masalah status kehalalannya. Telah demikian jelas, menabung itu solusi untuk mewujudkan rumah idaman. Lebih bagus lagi bila Anda mencari pemodal yang sudi mengkreditkan rumah secara langsung kepada Anda, tanpa campur tangan pihak ketiga. Dan tidak kalah penting, memohonlah kepada Allah dengan sepenuh hati. Percayalah, dengan usaha halal, diiringi doa yang tulus, rumah idaman Anda akan terwujud.

KPR SYARIAH harus benar-benar Syariah dong… !

SOLUSI KREDIT RUMAH TANPA MELIBATKAN PIHAK BANK

RUMAH NABAWI – AGEN PERUMAHAN SYARIAH MURAH

Agen Pemasaran Perumahan Syariah diwilayah Bogor, Bandung, Bekasi, Tangerang, Cikarang, Jakarta, dan Seluruh Indonesia | Tanpa Riba | Tanpa Bank | Tanpa Sita | Tanpa Denda | Tanpa Bi Checking | Proses Mudah

 

Ancaman Bagi Pelaku RIBA

Para pembaca, tidaklah Allah melarang dari sesuatu kecuali karena adanya dampak buruk dan akibat yang tidak baik bagi pelaku. Seperti Allah melarang dari praktek riba, karena berakibat buruk bagi pelakunya, baik di dunia maupun di akhirat kelak.

Riba dengan segala bentuknya adalah haram dan merupakan dosa besar yang akan membinasakan pelakunya di dunia dan akhirat. Dengan tegas Allah subhanahu wa ta’ala menyatakan (artinya):

“Orang-orang yang makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan setan karena (tekanan) penyakit gila. Keadaan mereka yang demikian itu disebabkan mereka berkata (berpendapat), sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba, padahal Allah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. Orang-orang yang telah sampai kepadanya larangan dari Rabbnya, lalu berhenti (dari mengambil riba), maka baginya apa yang telah diambilnya dahulu (sebelum datang larangan) dan urusannya (terserah) kepada Allah. Siapa yang mengulangi (mengambil riba), maka mereka itu adalah penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya.” [Al-Baqarah: 275]

Ketika menafsirkan ayat di atas, Asy-Syaikh ‘Abdurrahman As-Sa’di rahimahullah menerangkan:

“Allah mengabarkan tentang orang-orang yang makan dari hasil riba, jeleknya akibat yang mereka rasakan, dan kesulitan yang akan mereka hadapi kelak di kemudian hari. Tidaklah mereka bangkit dari kuburnya pada hari mereka dibangkitkan melainkan seperti orang yang kemasukan setan karena tekanan penyakit gila. Mereka bangkit dari kuburnya dalam keadaan bingung, sempoyongan, dan mengalami kegoncangan, serta khawatir dan cemas akan datangnya siksaan yang besar dan kesulitan sebagai akibat dari perbuatan mereka itu.” [Taisirul Karimir Rahman, hal. 117]

Dengan rahmat dan kasih sayang-Nya, Allah subhanahu wa ta’ala melarang kita dari perbuatan yang merupakan kebiasaan orang-orang Yahudi tersebut. Dengan sebab kebiasaan  memakan riba itulah, Allah subhanahu wa ta’ala sediakan adzab yang pedih bagi mereka.

“Dan disebabkan mereka (orang-orang Yahudi) memakan riba, padahal sesungguhnya mereka telah dilarang daripadanya, dan karena mereka memakan harta benda orang dengan jalan yang batil, Kami telah menyediakan untuk orang-orang yang kafir di antara mereka itu siksa yang pedih.” [An-Nisa’: 161]

Allah subhanahu wa ta’ala Maha Mengetahui, bahwa praktek riba dengan segala bentuk dan warnanya justru akan berdampak buruk bagi perekonomian setiap pribadi, rumah tangga, masyarakat, dan bahkan perekonomian suatu negara bisa hancur porak-poranda disebabkan praktek ribawi yang dilestarikan keberadaannya itu. Riba tidak akan bisa mendatangkan barakah samasekali. Bahkan sebaliknya, akan menjadi sebab menimpanya berbagai musibah. Apabila ia berinfak dengan harta hasil riba, maka ia tidak akan mendapat pahala, bahkan sebaliknya hanya akan menjadi bekal menuju neraka.

Mungkin ada yang bertanya, mengapa perekonomian di negara-negara barat sangat maju, rakyatnya makmur, dan segala kebutuhan hidup tercukupi, padahal praktek riba tumbuh subur di negara-negara tersebut?

Keadaan seperti ini janganlah membuat kaum muslimin tertipu. Allah subhanahu wa ta’ala Dzat yang tidak akan mengingkari janji-Nya telah berfirman (artinya):

“Allah memusnahkan riba dan menumbuh-kembangkan sedekah. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang tetap dalam kekafiran dan selalu berbuat dosa.” [Al-Baqarah: 276]

Makna dari ayat tersebut adalah bahwa Allah subhanahu wa ta’ala akan memusnahkan riba, baik dengan menghilangkan seluruh harta riba dari tangan pemiliknya, atau dengan menghilangkan barakah harta tersebut sehingga pemiliknya itu tidak akan bisa mengambil manfaat darinya. Bahkan, Allah subhanahu wa ta’ala akan menghukumnya dengan sebab riba tersebut di dunia maupun di akhirat. [Lihat Tafsir Ibnu Katsir]

Jadi, walaupun harta yang dihasilkan dari praktek riba ini kelihatannya semakin bertambah dan bertambah, namun pada hakikatnya kosong dari barakah dan pada akhirnya akan sedikit. Bahkan, bisa habis samasekali.

Dari sini, benarlah apa yang disabdakan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam:

مَا أَحَدٌ أَكْثَرَ مِنَ الرِّبَا إِلاَّ كَانَ عَاقِبَةُ أَمْرِهِ إِلَى قِلَّةٍ

“Tidak ada seorang pun yang banyak melakukan praktek riba kecuali akhir dari urusannya adalah hartanya menjadi sedikit.” [HR. Ibnu Majah, dari shahabat ‘Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, dishahihkan oleh Al-Imam Al-Albani rahimahullah dalam Shahih Ibnu Majah]

Siapa yang akan bisa selamat kalau Allah subhanahu wa ta’ala dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wasallam sudah mengumumkan peperangan kepadanya?

Disebutkan oleh sebagian ahli tafsir bahwa peperangan dari Allah subhanahu wa ta’ala adalah berupa adzab yang akan ditimpakan-Nya, sedangkan peperangan dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam adalah dengan pedang. [Lihat Tafsir Al-Baghawi]

Seorang mufassir (ahli tafsir) yang lain, yaitu Al-Imam Al-Mawardi rahimahullah menyatakan bahwa ayat (yang artinya): “maka ketahuilah bahwa Allah dan Rasul-Nya akan memerangi kalian” [Al-Baqarah: 279] bisa mengandung dua pengertian:

Pertama, bahwa jika kalian tidak menghentikan perbuatan riba, maka Aku (Allah) akan memerintahkan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam untuk memerangi kalian.

Kedua, bahwa jika kalian tidak menghentikan perbuatan riba, maka kalian termasuk orang-orang yang diperangi oleh Allah dan Rasul-Nya, yakni sebagai musuh bagi keduanya. [Lihat An-Nukat wal ‘Uyun]

Al-Imam Ibnu Katsir rahimahullah pada Tafsir-nya tentang ayat ke-279 dari surat Al-Baqarah di atas menyatakan:

“Ayat ini merupakan ancaman yang sangat keras bagi siapa saja yang masih melakukan praktek riba setelah datangnya peringatan (dari perbuatan tersebut).”

Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa ‘Abdullah bin ‘Abbas radhiyallahu ‘anhu berkata:

“Barangsiapa yang senantiasa melakukan praktek riba dan dia enggan untuk meninggalkannya, maka seorang imam (pemimpin) kaum muslimin berhak memerintahkannya untuk bertaubat, jika dia mau meninggalkan praktek riba (bertaubat darinya), maka itu yang diharapkan, namun jika dia tetap enggan, maka hukumannya adalah dipenggal lehernya.” [Lihat Tafsir Ibnu Katsir]

Al-Imam Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan:

“Ancaman seperti ini tidak diberikan kepada pelaku dosa besar kecuali pelaku riba, orang yang membuat kekacauan di jalan, dan orang yang membuat kerusakan di muka bumi.” [Lihat Thariqul Hijratain, hal. 558]

Lebih parah lagi kondisinya jika praktek riba itu sudah menyebar di suatu negeri, dan bahkan masyarakatnya sudah menganggap hal itu merupakan sesuatu yang lumrah. Maka ketahuilah bahwa keadaan seperti ini akan mengundang murka dan adzab Allah subhanahu wa ta’ala. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

إِذَا ظَهَرَ الزِّنَا وَالرِّبَا فِي قَرْيَةٍ فَقَدْ أَحَلُّوْا بِأَنْفُسِهِمْ عَذَابَ اللهِ

“Jika telah nampak perbuatan zina dan riba di suatu negeri, maka sungguh mereka telah menghalalkan diri mereka sendiri untuk merasakan adzab Allah.” [HR. Al-Hakim dan Ath-Thabarani, dari shahabat ‘Abdullah bin ‘Abbas c, dishahihkan oleh Al-Imam Al-Albani rahimahullah di dalam Shahihul Jami’]

Maka dari itulah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam -dengan penuh belas kasih kepada umatnya- benar-benar telah memperingatkan umatnya dari praktek riba yang bisa menyebabkan kebinasaan, sebagaimana dalam sabdanya:

اجْتَنِبُوا السَّبْعَ الْمُوْبِقَاتِ. قُلْنَا: وَمَا هُنَّ يَا رَسُوْلَ اللهِ؟ قَالَ: الشِّرْكُ بِاللهِ، وَالسِّحْرُ، وَقَتْلُ النَّفْسِ الَّتِي حَرَّمَ اللهُ إِلاَّ بِالْحَقِّ، وَأَكْلُ الرِّباَ، وَأَكْلُ مَالِ الْيَتِيْمِ، وَالتَّوَلِّي يَوْمَ الزَّحْفِ، وَقَذْفُ الْمُحْصَنَاتِ الْغَافِلاَتِ الْمُؤْمِنَاتِ

“Jauhilah oleh kalian tujuh hal yang menyebabkan kebinasaan.” Kami (para shahabat) bertanya: “Apa tujuh hal itu, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab: “…memakan (mengambil) riba…” [HR. Al-Bukhari dan Muslim]

Ancaman bagi yang ikut andil dalam praktek riba

Selain pemakan riba, dalam sebuah hadits juga disebutkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam juga mencela beberapa pihak yang turut terlibat dalam muamalah yang tidak barakah tersebut. Shahabat Jabir bin ‘Abdillah radhiyallahu ‘anhu mengatakan:

لَعَنَ رَسُوْلُ اللهِ آكِلَ الرِّبَا وَمُؤْكِلَهُ وَكَاتِبَهُ وَشَاهِدَيْهِ، وَقَالَ: هُمْ سَوَاءٌ

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melaknat orang yang memakan riba, memberi makan riba (orang yang memberi riba kepada pihak yang mengambil riba), juru tulisnya, dan dua saksinya. Beliau mengatakan: ‘Mereka itu sama’.” [HR. Muslim]

Mereka semua terkenai ancaman laknat dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam karena dengan itu mereka telah berta’awun (tolong menolong dan saling bekerjasama) dalam menjalankan dosa dan kemaksiatan kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman (artinya):

“Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran.” [Al-Maidah: 2]

Dalam riwayat lain, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

لَعَنَ اللَّهُ آكِلَ الرِّبَا وَمُوكِلَهُ وَشَاهِدَيْهِ وَكَاتِبَهُ

“Allah melaknat pemakan riba, pemberi makan riba (orang yang memberi riba kepada pihak yang mengambil riba), dua saksinya, dan juru tulisnya.” [HR. Ahmad, dari shahabat ‘Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, dishahihkan oleh Al-Imam Al-Albani rahimahullah, lihat Shahihul Jami’]

Dua hadits di atas menunjukkan ancaman bagi semua pihak yang bekerjasama melakukan praktek ribawi, yaitu akan mendapatkan laknat dari Allah subhanahu wa ta’ala dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wasallam, yang berarti dia mendapatkan celaan dan akan terjauhkan dari rahmat Allah subhanahu wa ta’ala.

Para pembaca, cukuplah hadits berikut sebagai peringatan bagi kita semua dari bahaya dan akibat yang akan dialami oleh pelaku riba di akhirat nanti.

Disebutkan dalam Shahih Al-Bukhari, dari shahabat Samurah bin Jundub t, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

رَأَيْتُ اللَّيْلَةَ رَجُلَيْنِ أَتَيَانِي فَأَخْرَجَانِي إِلَى أَرْضٍ مُقَدَّسَةٍ فَانْطَلَقْنَا حَتَّى أَتَيْنَا عَلَى نَهَرٍ مِنْ دَمٍ فِيهِ رَجُلٌ قَائِمٌ وَعَلَى وَسَطِ النَّهَرِ رَجُلٌ بَيْنَ يَدَيْهِ حِجَارَةٌ فَأَقْبَلَ الرَّجُلُ الَّذِي فِي النَّهَرِ فَإِذَا أَرَادَ الرَّجُلُ أَنْ يَخْرُجَ رَمَى الرَّجُلُ بِحَجَرٍ فِي فِيهِ فَرَدَّهُ حَيْثُ كَانَ فَجَعَلَ كُلَّمَا جَاءَ لِيَخْرُجَ رَمَى فِي فِيهِ بِحَجَرٍ فَيَرْجِعُ كَمَا كَانَ فَقُلْتُ مَا هَذَا ؟ فَقَالَ: الَّذِي رَأَيْتَهُ فِي النَّهَرِ آكِلُ الرِّبَا

“Tadi malam aku melihat (bermimpi) ada dua orang laki-laki mendatangiku. Lalu keduanya mengajakku keluar menuju tanah yang disucikan. Kemudian kami berangkat hingga tiba di sungai darah. Di dalamnya ada seorang lelaki yang sedang berdiri, dan di bagian tengah sungai tersebut ada seorang lelaki yang di tangannya terdapat batu-batuan. Kemudian beranjaklah lelaki yang berada di dalam sungai tersebut. Setiap kali lelaki itu hendak keluar dari dalam sungai, lelaki yang berada di bagian tengah sungai tersebut melemparnya dengan batu pada bagian mulutnya sehingga si lelaki itu pun tertolak kembali ke tempatnya semula. Setiap kali ia hendak keluar, ia dilempari dengan batu pada mulutnya hingga kembali pada posisi semula. Aku (Rasulullah) pun bertanya: ‘Siapa orang ini (ada apa dengannya)?’ Dikatakan kepada beliau: ‘Orang yang engkau lihat di sungai darah tersebut adalah pemakan riba’.” [HR. Al-Bukhari]

Mudah-mudahan Allah subhanahu wa ta’ala menjauhkan kita dari perbuatan riba dan seluruh amalan yang bisa mendatangkan kemurkaan-Nya.

Wallahu a’lam bish shawab.

BELI RUMAH TANPA BANK DAN TANPA BUNGA

TANPA RIBA, TANPA BANK, TANPA BUNGA, TANPA AKAD BERMASALAH

Konsep KPR Tanpa Riba tidak dipahami dengan cara yang sama oleh setiap orang. Tidak sedikit orang yang menganggap bahwa ketiadaan bunga (interest) sudah merupakan pemahaman yang tuntas tentang konsep Tanpa Riba.

Padahal Riba bisa muncul dari aktivitas lain yang sayangnya tidak banyak disadari oleh masyarakat. Sebenarnya bukan hanya konsep Tanpa Riba saja yang perlu dipahami, disadari, dan diwaspadai oleh masyarakat. Ada beberapa pemahaman lain yang harus benar-benar jelas dipahami agar masyarakat tidak terjerumus pada aktivitas maksiat secara tidak sadar karena ketiadaan ilmu.

KONSEP TANPA RIBA

Riba yang merupakan salah satu ciri utama yang khas dari sistem ekonomi sekuler-kapitalistik terbukti hanya membawa kesengsaraan untuk mayoritas dan semakin memisahkan jurang pembeda antara si kaya dan si miskin. Konsep Tanpa Riba adalah gagasan utama yang diemban oleh Developer Properti Syariah sebagai bagian dari solusi kepemilikan properti untuk masyarakat. Kesadaran masyakat Indonesia yang mayoritas muslim akan pentingnya memastikan setiap transaksi yang dilakukan bebas dari riba/tanpa riba semakin meningkat dari waktu ke waktu.

Akan tetapi menghadirkan pemahaman bertransaksi bebas unsur riba pada pemilikan properti adalah sesuatu hal yang baru bahkan di awal mula kehadirannya dianggap sebagai kemustahilan. Akan tetapi seiring dengan berjalannya waktu semakin terlihat bahwa selalu ada solusi bagi mereka sungguh-sungguh dan totalitas dalam berikhtiar. Termasuk untuk urusan kepemilikan properti secara syar’i bebas riba.

KONSEP TANPA BANK

Tidak banyak masyarakat yang menyadari bahwa salah satu pintu utama kokohnya riba di tengah-tengah masyarakat adalah keberadaan bank dan keterlibatannya dalam transaksi-transaksi strategis yang dilakukan masyakat. Bank menjadi alat yang efektif bagi sistem ekonomi sekuler-kapitalistik untuk mengeruk dana masyarakat dan mengokohkan riba untuk selalu berada di tengah-tengah masyarakat.

Konsep Tanpa Bank yang dibawa oleh Developer Properti Syariah (DPS) adalah dengan meniadakan peranan perbankan dalam aktivitas pembiayaan dan transaksi lainnya yang bersinggungan dengan hal yang prinsip serta membahayakan aqidah masyarakat. Keberadaan Bank Syariah pun tidak menjadi solusi nyata untuk membebaskan masyarakat dari aktivitas-aktivitas ekonomi bertentangan dengan Syariat Islam. Adapun aktivitas teknis semisal menggunakan jasa transfer uang atau aktivitas lainnya yang tidak membahayakan aspek-aspek prinsip aqidah, masih dapat untuk dimanfaatkan.

KONSEP TANPA DENDA

Konsep berikutnya yang menjadi pembeda mendasar kami sebagai Developer Properti Syariah dengan Developer Properti Konvensional adalah Konsep Tanpa Denda. Kebanyakan orang memiliki pandangan yang keliru tentang denda. Dalam konteks transaksi pemilikan properti konvensional, denda muncul sebagai konsekuensi yang harus ditanggung oleh konsumen yang diakibatkan karena adanya keterlambatan pembayaran cicilan dalam skema kredit. Banyak yang menganggap denda ini adalah suatu hal yang wajar. Padahal, dari sudut pandang Syariat Islam, denda semacam ini adalah terlarang dan merupakan bagian dari riba yang jelas-jelas maksiat dan dilarang dalam Islam.

KONSEP TANPA AKAD BERMASALAH

Konsep yang tidak kalah penting yang diemban oleh Developer Properti Syariah adalah konsep tanpa akad bermasalah. Seringkali masyarakat calon pembeli properti tidak mengerti kejelasan akad yang mereka lakukan ketika hendak membeli properti. Sebagai contoh adanya barang agunan dalam transaksi kredit. Umum ditemukan pada transaksi kredit pemilikan properti konvensional barang yang diagunkan adalah properti yang ditransaksikan, padahal dalam Islam hal seperti ini adalah dilarang dan menyebabkan akad menjadi bathil. Dalam transaksi kredit syariah, kejelasan akad seperti ini menjadi hal yang penting untuk diketahui agar akad transaksi bebas masalah.

RUMAH NABAWI – AGEN PERUMAHAN SYARIAH MURAH
Agen Pemasaran Perumahan Syariah diwilayah Bogor, Bandung, Bekasi, Tangerang, Cikarang, Jakarta, dan Seluruh Indonesia | Tanpa Riba | Tanpa Bank | Tanpa Sita | Tanpa Denda | Tanpa Bi Checking | Proses Mudah